Kamis, 25 April 2013

Revolusi Energi, Kunci Kehidupan Kompleks

Evolusi kehidupan kompleks sangat bergantung pada mitokondria yaitu pembangkit tenaga mungil yang ditemukan di semua sel-sel kompleks, menurut penelitian baru.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr. Nick Lane dari University College London dan Dr. WIlliam Martin dari Universitas Dusseldorf. "Prinsip-prinsip utamanya bersifat universal. Energi merupakan hal yang sangat penting, bahkan dalam dunia penemuan evolusioner. "Alien pun membutuhkan mitokondria."

Selama 70 tahun para ilmuwan berpikir bahwa evolusi nukleus atau inti sel merupakan kunci kehidupan kompleks. Saat ini dalam karya yang dipublikasikan di Nature pada tanggal 21 Oktober, Lane dan Martin mengungkapkan bahwa sebenarnya mitokondria merupakan bagian yang paling mendasar bagi perkembangan berbagai inovasi kompleks seperti nukleus karena fungsinya sebagai pembangkit tenaga dalam sel. "Pandangan tradisional yang digulingkan tersebut bahwa lompatan ke sel-sel 'eukarotik' hanya memerlukan mutasi yang tepat. Sebenarnya hal tersebut memerlukan sejenis revolusi industri dalam arti produksi energi," jelas Dr. Lane seperti yang dikutip dari Physorg (20/10/10).

Pada tingkat sel, manusia memiliki lebih banyak kesamaan dengan jamur, magnolia dan marigold ketimbang dengan bakteri. Alasannya ialah sel-sel kompleks seperti tumbuhan, hewan dan fungi memiliki ruang-ruang khusus termasuk pusat informasi yaitu nukleus dan pembangkit tenaga dalam hal ini mitokondria. Ruang-ruang dalam sel ini disebut 'eukariotik' dan semuanya berasal dari nenek moyang yang sama yang hanya timbul sekali dalam empat milyar tahun evolusi.

Para ilmuwan sekarang mengetahui bahwa nenek moyang yang sama ini yaitu 'eukariota pertama' lebih rumit dari bakteri manapun. Eukariota tersebut memiliki ribuan lebih gen dan protein ketimbang bakteri apapun selain kesamaan fitur seperti kode genetik. Akan tetapi apa yang memungkinkan eukariota mengakumulasi semua ekstra gen dan protein ini? Mengapa bakteri tidak?

Dengan memfokuskan pada energi yang ada di tiap gen, Lane dan Martin menunjukkan bahwa sel eukariotik rata-rata bisa mendukung 200.000 kali lipat lebih banyak gen daripada bakteri. "Hal ini memberikan bahan mentah kepada eukariota yang memungkinkannya mengakumulasi gen-gen baru, famili gen besar dan sistem regulator dalam skala yang tak mampu dilakukan bakteri," tutur Dr. Lane. "Itu merupakan basis kompleksitas, walaupun tidak selalu digunakan."

"Bakteri ada di dasar jurang bentangan energi, dan tidak pernah menemukan cara untuk keluar," jelas Dr. Martin. "Mitokondria memberikan eukariota empat atau lima urutan besarnya energi tiap gen, dan hal tersebut memungkinkannya untuk membuat terowongan keluar melalui dinding jurang tersebut."

Peneliti tersebut kemudian beranjak ke pertanyaan kedua yaitu mengapa bakteri tidak meruangkan diri sendiri untuk mendapatkan keuntungan memiliki mitokondria? Bakteri sering kali memulainya tapi tak pernah sampai tahap yang lebih jauh. Jawabannya terlektak pada genom mungil mitokondria. Gen-gen ini diperlukan untuk respirasi sel dan tanpa mereka sel-sel eukariotik akan mati. Jika sel-sel kian membesar dan lebih berenergi, mereka membutuhkan lebih banyak salinan gen-gen mitokondria untuk tetap hidup.

Bakteri menghadapi masalah yang sama. Mereka dapat menanganinya dengan membuat ribuan salinan keseluruhan genomnya yang dalam kasus sel bakteri raksasa seperti Epulopiscium bisa mencapai 600.000. Akan tetapi semua DNA ini memiliki ongkos energi besar yang melumpuhkan sekalipun bakteri raksasa yaitu kelumpuhan yang menghentikannya untuk berubah menjadi eukariota yang lebih kompleks. "Satu-satunya jalan keluar ialah jika satu sel entah bagaimana masuk ke dalam sel lainnya yang disebut endosimbiosis," kata Dr. Lane.

Sel-sel saling berkompetisi satu sama lain. Ketika hidup dalam sel-sel lain mereka cenderung berpotongan tergantung pada sel inangnya jika memungkinkan. Selama waktu evolusioner, mereka kehilangan gen-gen yang tak diperlukan dan menjadi langsing yang pada akhirnya hanya memiliki bagian-bagian kecil gen permulaan yaitu hanya gen-gen yang sangat diperlukan mereka.

Kunci kompleksitas yaitu bahwa gen-gen sedikit yang tersisa ini dianggap hampir tak ada. Mengkalkulasi energi yang diperlukan untuk mendukung genom bakteri normal dalam ribuan salinan serta ongkosnya merupakan suatu penghalang. Jika hal tersebut dilakukan pada genom mitokondrial mungil, ongkosnya sangat mudah ditanggung, seperti yang ditunjukkan dalam makalah Nature. Perbedaannya ialah jumlah DNA yang bisa didukung dalam nukleus, bukan sebagai salinan repetitif gen-gen tua yang sama, tapi sebagai bahan mentah bagi evolusi baru.

"Jika evolusi bekerja seperti seorang yang tanpa keahlian, evolusi mitokondria bekerja layaknya seperti sekelompok insinyur," tutur Dr. Martin. Masalahnya ialah, walaupun sel dalam sel merupakan sesuatu yang lazim pada eukariota yang sering kali menelan sel lain, eukariota semakin jarang pada bakteri yang lebih kaku. Hal tersebut bisa dengan baik menjelaskan mengapa kehidpan kompleks dalam hal ini eukariota hanya berkembang sekali dalam sejarah Bumi, menurut kesimpulan Lane dan Martin. 

               http://www.nature.com/nature/journal/v467/n7318/full/nature09486.html

Kaca Helm Lindungi Tentara dari Ledakan

Helm militer yang digunakan saat ini masih memberikan akses bagi daya ledakan untuk melakukan penetrasi melalui wajah. Menambahkan kaca helm pada helm standar militer, bisa membantu melindungi tentara dari cedera otak.

Penelitian baru yang memodelkan bagaimana gelombang kejut (shock wave) melewati kepala menemukan bahwa penambahan pelindung wajah bisa membelokkan porsi substansial ledakan yang jika tanpa pelindung tersebut akan dengan mulus menjangkau otak.

Studi ini merupakan bagian dari sejumlah besar penelitian baru untuk menghentikan cedera otak traumatis. Diperkirakan 1,5 juta orang Amerika menderita cedera otak traumatis ringan setiap tahun, dan hampir 200.000 anggota tentara terdiagnosa menderita cedera tersebut sejak tahun 2000, menurut Armed Forces Health Surveillance Center di Silver Spring, Maryland. Walaupun tubrukan langsung seperti membenturkan kepala jelas-jelas dapat mencederai otak, daya yang berlangsung ketika bahan peledak mengirimkan gelombang kejut melalui kepala lebih sulit untuk dikarakterisasikan.

Dalam studi tersebut, para peneliti yang dipimpin oleh Raúl Radovitzky dari MIT’s Institute for Soldier Nanotechnologies menciptakan model komputer terperinci kepala manusia termasuk lapisan lemak dan kulit, tengkorak, serta berbagai jenis jaringan otak. Tim tersebut memodelkan gelombang kejut dari sebuah ledakan yang diledakkan tepat di depan wajah dalam tiga kondisi: dengan kepala telanjang, dilindungi oleh helm yang sekarang digunakan dalam pertempuran, dan dilindungi oleh helm tersebut dengan tambahan pelindung wajah polikarbonat.

Hasilnya menunjukkan bahwa helm yang digunakan saat ini oleh pihak militer tidak memperburuk kerusakan seperti yang ditunjukkan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Akan tetapi setidaknya dalam hal perlindungan dari ledakan, helm tersebut juga tidak banyak membantu. Penambahan pelindung wajah akan memperbaiki beberapa masalah, menurut laporan tim tersebut.
 
"Pelindung wajah banyak perperan dalam membelokkan daya dari gelombang ledakan dan tidak membiarkannya secara langsung menyentuh jaringan lunak," kata Radovitzky. "Kami tidak mengatakan bahwa ini merupakan desain terbaik bagi pelindung wajah, tapi kami mengatakan kita perlu melindungi wajah."
Untuk memvalidasi model tersebut, para peneliti di MIT dan di mana pun juga harus melakukan eksperimen di dunia nyata. Akan tetapi karya tersebut menunjukkan kelemahan utama pada helm yang digunakan saat ini.
 
"Helm ini tidak didesain untuk menghentikan tekanan gelombang dan tidak didesain untuk menghentikan peluru," tutur Albert King yang merupakan direktur Bioengineering Center di Wayne State University Detroit. "Seperti halnya helm American football tidak didesain untuk menghentikan geger otak tapi untuk menghentikan fraktur atau keretakan tengkorak."

Mendesain helm yang tahan ledakan membutuhkan pengetahuan lebih baik tentang apa yang terjadi dalam otak ketika disapu oleh ledakan. Para tentara yang mengalami ledakan acapkali menggambarkan angin atau gelombang yang membuat mereka melihat bintang-bintang. "Saya pusing," merupakan laporan yang biasa didengar.

Cedera otak traumatis "ringan" yang diakibatkan, tidak menyebabkan kehilangan kesadaran jangka panjang, dan pemindaian otak memperlihatkan hasil normal. Akan tetapi melabelkan cedera ini sebagai cedera ringan merupakan istilah yang tidak cocok, kata Douglas Smith yang merupakan direktur Center for Brain Injury and Repair di Universitas Pennsylvania di Philadelphia. "Bukan ringan, terminologi itu membuat orang tersesat," tutur Smith. "Hal tersebut merupakan sesuatu yang serius yang bisa menyebabkan disfungsi berat."
 
Smith beserta para koleganya mengerjakan sensor yang bisa ditempatkan dalam helm atau kendaraan dan seperti alat pendeteksi radiasi yang dipakai oleh para pekerja di pabrik nuklir akan mengindikasikan eksposur terhadap daya ledakan yang dapat menyebabkan cedera otak. Sensor tersebut digambarkan dalam sebuah makalah yang akan diterbitkan di NeuroImage.

Walaupun sebuah sensor mengindikasikan eksposur terhadap daya ledakan, masih belum jelas bagaimana tepatnya daya tersebut menyebabkan trauma otak. Dalam kondisi sehari-hari, otak secara gampang dapat menahan sedikit tubrukan. "Jatuhkan diri anda ke kursi maka otak anda akan bergoyang seperti gel agar-agar," ujar Smith. Namun dalam kecepatan yang sangat tinggi, sel-sel otak bukannya melonggar tapi bisa retak dan pecah seperti kaca.

Efek jangka panjang dari sel-sel otak yang rusak ini sebagian besar tidak diketahui. Di samping sakit kepala kronis, pusing dan kesulitan mengingat kata-kata, penelitian menunjukkan bahwa ketika otak lumpuh walau hanya beberapa menit, cenderung menimbulkan depresi.
 
Scott Matthews yang merupakan seorang psikiater di Universitas California, San Diego, yang mempelajari cedera otak traumatis ringan pada para veteran, memperhatikan bahwa kausalitas tidak dapat dipastikan. Akan tetapi pada para tentara yang pernah terlibat dalam pertempuran, dia melihat depresi dua kali sesering pada orang-orang dengan cedera otak traumatis. "Ada bukti yang kian banyak bahwa kehilangan kesadaran bisa mengubah otak," kata Matthews.
 
Membongkar penyebab serta efek dan mendesain eksperimen untuk menjelaskan cedera otak traumatis serta akibat buruknya tetap sangat menantang. Lagi pula menerjemahkan temuan-temuan signifikan tersebut ke dalam kebijakan yang berarti bisa sama sulitnya. Bahkan mengimplementasikan sesuatu yang sesederhana helm dengan pelindung wajah memiliki permasalahan, kata Smith.
 
"Bagaimana anda menyebarkan sesuatu yang seperti itu?" katanya. "Ada hal-hal praktis seperti masalah temperatur dan kemudian ada keinginan para tentara bisa bertemu dan bersalam-salaman di pedesaan tanpa terlihat seperti orang luar angkasa." Penelitian tersebut dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Science

Sabtu, 06 April 2013

Mahakarya Teori Intelegensi Buatan Gabungan

Mungkin saja di masa yang akan datang robot humanoid bisa menjadi teman manusia seperti yang digambarkan di berbagai film fiksi ilmiah.

Pada periode 50an sampai 60an, para peneliti intelegensi buatan (IB) mencoba untuk mengungkap proses berpikir. Namun ternyata proses itu lebih kompleks dari yang pernah dibayangkan. Sejak saat itu para peneliti intelegensi buatan malahan mengandalkan probabilitas yaitu pola statistik yang dapat dimengerti komputer dari kumpulan data latihan.
 
Pendekatan probabilistik telah menghasilkan hampir keseluruhan kemajuan di bidang intelegensi buatan, seperti berbagai sistem pengenalan suara atau voice recognition systems, atau pun sebuah sistem yang merekomendasikan film bagi para langganan Netfix. Akan tetapi Noah Goodman, seorang peneliti MIT di bagian Otak dan Ilmu Kognisi tapi laboratoriumnya Ilmu Komputer dan Intelegensi Buatan, berpikir bahwa IB kehilangan sesuatu yang berharga dengan tidak meneliti proses berpikir. Dengan mengkombinasikan sistem proses berpikir lama bersama sistem probabilistik baru, Goodman menemukan jalan untuk memetakan pikiran yang memberikan dampak luas bagi IB maupun ilmu kognitif.
 
Para peneliti IB terdahulu melihat proses berpikir sebagai kesimpulan logika: jika anda tahu bahwa burung bisa terbang dan dikatakan bahwa sayap yang terbuat dari lilin adalah seekor burung, maka anda bisa menyimpulkan bahwa sayap lilin itu bisa terbang. Salah satu dari penelitian IB pertama adalah pengembangan bahasa matematis yang mirip dengah bahasa komputer di mana para peneliti bisa menyandikan atau mengkodekan pernyataan seperti "burung bisa terbang" dan "sayap lilin adalah burung". Jika bahasa itu dulunya cukup tepat, algoritma komputer bisa menyisir pernyataan yang tersimpan dan mengkalkulasi semua kesimpulan logika yang sah. Setelah mereka mengembangkan bahasa seperti itu, para peneliti IB mulai menggunakan bahasa itu untuk mengkodekan banyak pernyataan berdasarkan akal sehat, yang disimpan di basis data yang sangat besar.
 
Masalah yang dihadapi dengan pendekatan ini yaitu bahwa tak semua burung bisa terbang. Lagi pula di antara burung yang dapat terbang, ada perbedaan antara rajawali dalam sangkar dan rajawali yang patah sayap, dan berbagai perbedaan lain antara rajawali dan pinguin. Bahasa matematis yang dikembangkan oleh para peneliti IB terdahulu cukup fleksibel untuk merepresentasikan perbedaan konseptual seperti itu, namun menulis seluruh perbedaan diperlukan karena bahkan tugas kognitif yang paling dasar terbukti lebih sulit dari yang dibayangkan.

Memeluk Ketidakpastian
 
Pada IB probabilistik, menurut perbedaan, sebuah komputer diberikan banyak masukan atau contoh seperti gambar berbagai burung dan dibiarkan menyimpulkan sendiri apa yang menjadi ciri umum dari masukan tersebut. Pendekatan ini bekerja cukup baik dengan konsep kongkrit seperti "burung", namun bermasalah dengan konsep yang lebih abstrak seperti penerbangan, suatu kemampuan umum yang dimiliki oleh burung, helikopter, layang-layang dan pahlawan super. Anda bisa menunjukkan kepada suatu sistem probabilistik banyak gambar penerbangan, namun walaupun sistem itu bisa menemukan ciri umum yang dimiliki oleh gambar-gambar tersebut, akan sangat mungkin untuk salah mengidentifikasi awan, atau matahari, atau antena di atas gedung sebagai contoh penerbangan. Dan bahkan penerbangan merupakan konsep kongkrit jika dibandingkan dengan, katakanlah, "tata bahasa", atau "keibuan".
 
Sebagai alat penelitian, Goodman mengembangkan sebuah bahasa pemrograman komputer yang disebut Church sesuai dengan nama Alonzo Church yakni seorang ahli logika Amerika terkenal. Bahasa itu seperti berbagai bahasa terdahulu IB mengikutsertakan aturan kesimpulan. Namun aturan itu bersifat probabilistik. Katakanlah kasuari adalah seekor burung, sebuah program yang ditulis dalam Church bisa saja mengikutsertakan bahwa kasuari mungkin bisa terbang. Tapi jika program itu diberitahukan bahwa kasuari bisa seberat 90kg, dia bisa saja merevisi perkiraan probabilitas pertamanya, menyimpulkan bahwa, sebenarnya kasuari mungkin tak bisa terbang.
 
"Dengan penalaran probabilistik, anda mendapat keseluruhan struktur dengan cuma-cuma," kata Goodman seperti yang dikutip Physorg. Sebuah program Church yang tak pernah menemukan burung yang tak bisa terbang bisa saja pada permulaan menetapkan probabilitas bahwa setiap burung bisa terbang di angka 99,99 persen. Namun begitu dia belajar tentang kasuari dan pinguin, juga rajawali di sangkar dan yang patah sayap, dia merevisi probabilitasnya menurut hal-hal itu. Pada akhirnya, probabilitas merepresentasikan seluruh konsep perbedaan yang harus dikodekan secara manual oleh para peneliti IB terdahulu. Tapi sistem itu belajar perbedaan itu dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, seperti cara manusia belajar konsep baru dan merevisi yang lama.
 
"Apa yang istimewa dari program ini yaitu dia memperkenankan anda untuk membangun pemetaan kognisi dengan cara yang lebih jujur dan transparan dari yang pernah anda lakukan sebelumnya," kata Nick Chater, seorang profesor ilmu kognisi dan keputusan di Universitas College London. "Anda bisa membayangkan keseluruhan yang diketahui manusia, dan mencoba untuk mendaftarkan semua itu merupakan sebuah tugas yang tak ada akhirnya, dan mungkin adalah suatu tugas tak terbatas. Tapi trik baru berkata, "tidak, katakan saja beberapa hal kepada saya," dan bagian otaknya dalam hal ini sistem Church, mudah-mudahan agak sejalan dengan pikiran melakukannya, bisa mengocok, menggunakan kalkulasi probabilistiknya, semua akibat dan kesimpulan. Dan juga, ketika anda memberikan informasi baru ke dalam sistem itu, ia bisa menyimpulkan akibatnya."

Pikiran-Pikiran Pemetaan
 
Program-program yang menggunakan kesimpulan probabilistik nampaknya mampu memetakan kapasitas kognisi manusia lebih luas daripada pemetaan kognisi tradisional. Pada konferensi Masyarakat Ilmu Kognisi tahun 2008, sebagai contoh, Goodman dan Charles Kemp, yang merupakan mahasiswa PhD di BCS pada waktu itu, mempresentasikan karya di mana mereka memberikan para subyek manusia sebuah daftar tujuh atau delapan pegawai pada sebuah perusahaan fiktif dan memberitahukan mereka pegawai mana mengirim surel ke yang lain. Kemudian mereka memberikan para subyek sebuah daftar pendek pegawai pada perusahaan fiktif lain. Tanpa data tambahan, para subyek diminta untuk membuat sebuah grafik yang menggambarkan siapa yang mengirim surel kepada siapa di perusahaan kedua.
 
Jika pola surel di kasus contoh membentuk sebuah rantai - Alice mengirim surel ke Bob yang mengirim surel ke Carol, dan ke, katakanlah Henry - para subyek manusia cenderung memprediksi bahwa pola surel di kasus contoh itu akan juga membentuk suatu rantai. Jika pola surel pada kasus contoh membentuk suatu putaran - Alice mengirim surel ke Bob yang mengirim surel ke Carol, dan seterusnya, tapi Henry mengirim surel ke Alice - para subyek juga memprediksi putaran di kasus contoh itu.
 
Sebuah program yang menggunakan kesimpulan probabilistik, diminta untuk melakukan tugas yang sama, berperilaku hampir sama dengan subyek manusia, menyimpulkan rantai dari rantai dan putaran dari putaran. Tapi berbagai pemetaan kognisi konvensional sama sekali memprediksikan pola surel acak pada kasus contoh: mereka tak bisa menyimpulkan konsep level tinggi dari putaran dan rantai. Dengan para kolaborator di Bagian Ilmu Otak dan Kognisi, Goodman melakukan percobaan serupa di mana para subyek diminta untuk menyortir gambar-gambar serangga atau pohon ke dalam kategori berbeda, atau membuat kesimpulan yang memerlukan penerkaan apa yang dipikirkan orang lain. Pada semua kasus ini, yang sebagiannya juga dipresentasikan di konferensi Masyarakat Ilmu Kognisi, program Church melakukan pekerjaan memetakan pikiran manusia lebih baik ketimbang algoritme intelegensi buatan tradisional.
 
Chater memperingatkan hal itu, sementara program Church bekerja dengan baik pada tugas yang ditargetkan, mereka saat itu terlalu intensif berhitung untuk bekerja sebagai simulator pikiran umum."Itu merupakan masalah serius jika anda mau menggunakanya untuk memecahkan setiap masalah di bawah matahari," kata Chater. "Tapi itu baru dibuat, dan hal-hal ini selalu payah dioptimalisasi ketika mereka baru dibuat." Dan Chater menekankan bahwa membuat sistem itu bekerja adalah suatu pencapaian: "Itu merupakan sesuatu yang bisa saja dihasilkan seseorang sebagai saran teoritik, dan anda akan berpikir, 'Wow, itu sangat pintar, tapi saya yakin anda tak bisa membuatnya berjalan, benar saja.' Dan keajaibannya ialah dia benar-benar berjalan, dan bekerja."

Terbentuknya Benua

Sebuah cara baru untuk mengkalkulasi umur kerak Bumi telah dikembangkan oleh para peneliti dari Universitas Bristol dan Universitas St. Andrews.

Kerak benua merupakan rekaman utama kondisi Bumi selama 4,4 milyar tahun terakhir. Pembentukannya mengubah komposisi lapisan mantel dan atmosfer, ia mendukung kehidupan, dan tetap sebagai pencuci karbon dioksida melalui cuaca dan erosi. Oleh karena itu, kerak benua memiliki peran utama dalam evolusi Bumi, dan sekalipun begitu pewaktuan turunannya tetap menjadi topik perdebatan hangat.

Secara luas diyakini bahwa kerak benua muda telah bertumbuh dari mantel bagian atas yang menipis. Satu cara umum untuk mengetahui kapan kerak baru terbentuk ialah dengan menentukan komposisi isotop radiogenik dari sampel kerak, dan membandingkan ciri-ciri isotopnya dengan mantel yang telah menipis. Dengan kata lain, isotop radiogenik dapat digunakan untuk mengkalkulasi 'model umur' pembentukan kerak, yang merepresentasikan waktu karena sampel kerak terpisah dari sumber mantelnya.

Konsep 'model umur' telah secara luas digunakan dalam studi-studi evolusi kerak selama tiga dekade terakhir. Namun semakin jelas bahwa menggunakan komposisi isotop dari mantel yang menipis sebagai sebuah referensi kalkulasi model umur turunan kerak benua bisa membawa kepada interpretasi yang tidak lengkap.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan kemarin di jurnal Science, Dr. Bruno Dhuime dari Sekolah Ilmu Bumi Bristol dan para koleganya menggambarkan sebuah metodologi baru bagi kalkulasi model umur, berdasarkan komposisi isotop dari rata-rata kerak benua baru.
 
Dr. Dhuime mengatakan: "Usia yang dihitung dengan cara ini secara signifikan lebih muda dari model umur yang dihitung dari komposisi isotop mantel yang menipis. Usia baru yang didapatkan lebih konsisten dengan rekaman geologis, yang membuka perspektif baru dalam studi evolusi kerak berdasarkan isotop radiogenik." Demikian seperti yang dikutip dari Physorg (13/01/11).

Sabtu, 23 Maret 2013

Kelahiran Kembali Alam Semesta

Pola-pola sirkuler pada latar radiasi keseluruhan alam semesta mengindikasikan bahwa Ledakan Dahsyat (Big Bang) hanya merupakan bagian terakhir dari sebuah rentetan proses penciptaan.

Kebanyakan kosmolog menelusuri kelahiran alam semesta sampai ke Ledakan Dahsyat 13,7 milyar tahun lalu. Namun analisis baru terhadap sisa-sisa radiasi yang dihasilkan oleh peristiwa ledakan tersebut mengindikasikan bahwa alam semesta mulai diciptakan milyaran tahun sebelumnya dan telah melalui banyak sekali peristiwa kelahiran dan kematian, dan Ledakan Dahsyat hanya merupakan kejadian terakhir pada rentetan ledakan-ledakan pencetus.

Pemikiran mengejutkan tersebut yang dikemukakan oleh fisikawan teoritis Roger Penrose dari Universitas Oxford di Inggris dan Vahe Gurzadyan dari Institut Fisika Yerevan dan Universitas Yerevan di Armenia, melawan arus teori standar kosmologi yang dikenal dengan inflasi atau inflation.

Para peneliti mendasarkan penemuan mereka pada pola-pola sirkuler yang mereka temukan pada latar gelombang mikro (microwave) alam semesta yaitu cahaya gelombang mikro yang tersisa dari Ledakan Dahsyat. Elemen-elemen sirkulernya mengindikasikan bahwa alam semesta itu sendiri bersiklus melewati periode-periode akhir dan awal, tegas Penrose dan Gurzadyan.

Elemen-elemen sirkuler tersebut merupakan daerah di mana variasi-variasi temperatur dalam latar keseragaman gelombak mikro lainnya lebih kecil dari rata-rata. Penrose mengatakan bahwa elemen-elemen tersebut tidak dapat dijelaskan oleh teori inflasi yang sangat sukses tersebut, yang menghipotesakan bahwa alam semesta yang baru tercipta mengalami semburan pertumbuhan yang sangat besar, membalon dari sesuatu pada skala ukuran sebuah atom menjadi berukuran satu buah anggur selama sepersekian detik pertama alam semesta. Inflasi akan menghapus pola-pola seperti itu.

"Keberadaan elemen-elemen koheren berskala besar pada latar gelombang mikro bentuk ini, nampaknya akan berkontradiksi dengan model inflasioner dan akan menjadi penanda yang sangat berbeda dari model Penrose tentang alam semesta siklik," kosmolog David Spergel dari Universitas Princeton berkomentar. Namun, dia menambahkan, "Makalah tersebut tidak memberikan cukup rincian mengenai analisis untuk menilai realitas lingkaran-lingkaran ini." Demikian seperti yang dikutip dari ScienceNews (26/11/10).

Penrose menginterpretasikan lingkaran-lingkaran tersebut sebagai sesuatu yang menyediakan sarana untuk melihat ke masa lalu, melewati tembok kaca Ledakan Dahsyat paling terakhir, menuju periode alam semesta sebelumnya. Dia mengemukakan bahwa lingkaran-lingkaran tersebut dihasilkan oleh tabrakan antara lubang-lubang hitam raksasa yang terjadi selama periode sebelumnya tersebut. Tabrakan lubang-lubang hitam akan menciptakan disonansi gelombang gravitasional yang berdesir dalam waktu ruang dikarenakan akselerasi massa raksasa tersebut. Gelombang-gelombang itu akan terdestribusi secara sirkuler dan seragam.

Menurut rincian matematis yang dikerjakan Penrose, ketika distribusi seragam gelombang gravitasional dari periode sebelumnya tersebut memasuki periode sekarang, mereka terkonversi ke dalam pulsa energi. Pulsa tersebut menyediakan satu tendangan seragam ke porsi materi gelap yang merupakan material tak kelihatan yang membentuk lebih dari 80 persen massa alam semesta.

"Oleh sebab itu material materi gelap di sepanjang ledakan tersebut memiliki ciri seragam ini," tutur Penrose. "Inilah yang terlihat sebagai sebuah lingkaran pada langit latar gelombang mikro alam semesta kita, dan hal tersebut seharusnya terlihat seperti lingkaran yang cukup seragam."

Setiap lingkaran memiliki variasi temperatur lebih rendah dari rata-rata, seperti yang dia dan Gurzadyan temukan ketika mereka menganalisa data dari alat luar angkasa Wilkinson Microwave Anisotropy Probe milik NASA, disingkat WMAP, yang memindai keseluruhan langit selama sembilan tahun, dan eksperimen balloon-borne BOOMERANG yang meneliti latar gelombang mikro di sebagian kecil alam semesta.

Oleh karena tim tersebut menemukan elemen-elemen sirkuler yang sama dengan menggunakan dua detektor, Penrose mengatakan tidak mungkin dia dan para koleganya tertipu oleh noise instrumental atau benda-benda lainnya.

Namun Spergel mengatakan bahwa dia kuatir jangan-jangan tim tersebut belum memperhitungkan variasi tingkat noise data WMAP yang didapatkan dari bagian-bagian langit yang berbeda. WMAP memeriksa berbagai daerah langit dengan alokasi waktu yang tidak sama. Peta-peta latar gelombang mikro yang dihasilkan dari daerah-daerah tersebut mempelajari yang terlama memiliki noise lebih rendah dan variasi-variasi lebih kecil yang terekam pada temperatur cahaya gelombang mikro tersebut. Peta-peta dengan noise yang lebih rendah tersebut secara artifisial dapat menghasilkan lingkaran-lingkaran yang Penrose dan Gurzadyan atribusikan ke model alam semesta siklik mereka, kata Spergel.

Peta baru latar gelombang mikro alam semesta yang lebih rinci, yang sekarang sedang dikerjakan oleh the European Space Agency’s Planck mission, bisa menyediakan uji yang lebih definitif terhadap teori tersebut, tutur Penrose. Penemuan kontroversial tersebut dipublikasikan di arXiv.org (17/11/10).

Rabu, 13 Februari 2013

Arsenal

Berdiri: 1886
Alamat: Emirates Stadium, Drayton Park, London N5 England
Telepon: 020 7704 4000
Faksimile: 020 7704 4001
Surat Elektronik: website@arsenal.co.uk
Laman Resmi: http://www.arsenal.com
Ketua: Peter Hill-Wood
Direktur: Ken Friar, Sir Chips Keswick, Lord Harris of Peckham, Stanley Kroenke
Stadion: Emirates

Sejarah
Arsenal didirikan oleh orang Scotlandia bernama David Danskin berasal dari Kirkcaldy di Fife, bekerja di pabrik amunisi Arsenal di Woolwich.  Kemudian di bantu oleh tiga orang temannya yaitu: Elia Watkins, John Humble, dan Richard Pearce. Datanglah ke Woolwich dua pemain Nottingham Forest, Fred Beardsley dan Morris Bates. Yang kemudian memacu Danskin untuk melakukan suatu langkah besar.  Kabar menyebar dan 15 pria berkumpul, masing-masing siap untuk membayar enam pence untuk memulai sebuah klub. Danskin menambahkan tiga shilling dan klub membeli bola. Saat itu bulan Oktober 1886.
 
Pertandingan pertama yang mereka lakoni adalah pada bulan December 1886, tanpa nama, dan tanpa seragam. Kemudian mereka dinamai Dial Square, setelah mereka melewati salah satu tempat bekerja mereka dengan nama yang sama untuk menyeberangi sungai Thames ketika mereka akan bermain dengan Eastern Wanderers di Isle of Dog.

Dalam pertandingan tersebut, mereka menang 6-0. Setelah pertandingan tersebut, mereka berkumpul di sebuah pub bernama Royal Oak, disebelah stasiun Woolwich Arsena pada Hari Natal 1886. Beardsley memecahkan masalah seragam mereka dengan meminta bantuan dari kontaknya di Nottigham Forest. Mereka kemudian mengirimkan satu set lengkap kemeja merah. Pada saat mereka duduk di Royal Oak, para pendiri klub memilih nama baru, mereka mengkombinasikan nama pub yaitu Royal Aok dengan tempat kerja mereka Arsenal menjadi Royal Arsenal.
 

Pada tahun 1913, klub ini pindah ke wilayah utara, tepatnya di daerah Highbury dan membangun Stadion Highbury, yang menjadi markas baru mereka. Saat pindah lokasi itulah, nama depan klub mereka, yaitu Woolwich dihapus sehingga hanya nama Arsenal yang tersisa. Selain itu karena lokasi stadion Arsenal dekat dengan markas Tottenham Hotspur, maka tak heran jika pertandingan Arsenal vs Tottenham Hotspur disebut "North London derby" dan merupakan salah satu derby terpanas di London.
 

Kejayaan Arsenal di persepak bolaan Inggris pertama kali diawali oleh pelatih Herbert Chapman yang melatih pada rentang tahun 1925-35 dan berhasil menjuarai beberapa kompetisi domestik Inggris (Piala FA, Titel Liga Utama, dan Charity Shield) sekaligus mendominasinya dan menjadikan Arsenal sebagai kekuatan paling dominan di Inggris saat itu. Pada rentang 1940an-1960an, Arsenal hanya dapat menambah sedikit koleksi gelar domestiknya. Pada awal 1970an, Arsenal berhasil prestasi terbaik Arsenal di Eropa pertama kali yang terjadi pada musim 1969-70, di ajang Fairs Cup (pendahulu dari Piala UEFA). Arsenal menjadi juara untuk pertama kalinya dan sekaligus terakhir di ajang Fairs Cup (Fairs Cup diganti Piala UEFA sejak musim 1971-72) setelah berhasil mengalahkan klub R.S.C. Anderlecht dengan agregat 4-3 (dengan sistem home and away) Saat itu, klub ini dilatih oleh Bertie Mee. Sepanjang tahun 1980an, Arsenal berhasil menambah koleksi Arsenal dengan beberapa gelar domestik, yaitu Piala Liga pada tahun 1987 dan menjuarai Liga Inggris pada tahun 1989 lewat pertandingan dramatis dengan kompetitor gelar, Liverpool. Namun, Arsenal gagal mengoleksi gelar dari kompetisi Eropa, kalah adu penalti dari Valencia 5-4 pada kompetisi Piala Winners setelah skor tetap 0-0.
 

Kerusakan-kerusakan Pada Genset

Genset seringkali rewel dan bahkan mogok. Beberapa kerusakan yang mungkin terjadi pada genset dan solusi perbaikannya adalah sebagai berukut :
 
1. Mesin tidak dapat di-start :
Kemungkinan Penyebab KerusakanSolusi Perbaikan
Baterai lemah atau matiIsi atau ganti dengan baterai yang baru
Kawat listrik terlepas atau putusPerbaiki atau kokohkan sambungan-sambungannya
Motor stater rusakPerbaiki atau ganti
Tekanan udara di tangki terlalu rendahIsi dengan udra tekan

2. Mesin dapat di-start tetapi tiba-tiba mati

Kemungkinan Penyebab KerusakanSolusi Perbaikan
Air di dlam tangki bahan bakarBuang air dan udara dari dalam tangki dan pipa bahan bakar
Lubang vertilasi tangki bahan bakar tersumbatBersihkan
Saringan bahan bakar tersumbatBersihkan atau ganti dengan yang baru
Katup pompa pengisi bahan bakar kotor atau tersumbatBersihkann

3. Daya mesin hilang

Kemungkinan Penyebab KerusakanSolusi Perbaikan
Plunyer pompa sudah ausPeriksa dan setel dengan alat penguji pompa. Perbaiki atau ganti dengan yang baru
Kebocoran pada rumah katubPerbaiki atau ganti katub dan dudukannya
Pegas katub patahGanti dengan yang baru
Katub nozel kotor atau rusakBersihkan atau ganti nozel yang baru